Skip to main content

Posts

Bingkai Kilas Balik

BINGKAI KILAS BALIK Binar mata kita kian menyatu Sekilas tebersit buaian waktu Berterimakasihlah kepada angin Telah menerbangkannya berlusin-lusin Lampu mercusuar itu kian berputar Padahal tak lagi ada pelaut di samudera Kepada siapakah dia berisyarat? Kepada kita yang tersandera Cilegon, 5 April 2023 Arfi K. Fitrian

Hujan yang Pergi Tanpa Pamit

  HUJAN YANG PERGI TANPA PAMIT Rintik sendu mengiringiku menulis sebuah puisi dialektis Sambil duduk di sudut kedai kopi, aku menyeruput makna-makna filosofis Hujan yang kulihat di luar jendela tak kunjung berhenti Tak pernah lelah membasahi dan memainkan hati Di tengah gempuran badai, sang hujan berkata padaku Tentang pengharapan yang tak seharusnya menerungku Benakku langsung percaya begitu saja Tanpa berpikir panjang, otakku berhenti bekerja Entah apa alasannya, tak nampak lagi tetesan air di luar Ia telah digantikan oleh sebuah bintang yang meyuar Hanya meninggalkan pertanyaan yang membuat pikiranku masai Karenanya, puisiku tak pernah selesai Yogyakarta, 1 Oktober 2022 Arfi K. Fitrian

Tentang Pilihan

Tentang Pilihan Karya: Arfi K. Fitrian   Lembayung matahari mulai meredup. Warna biru kehitam-hitaman mulai menggerayangi langit. Di pinggir pantai tepat di atas batu karang yang sudah mati, Nadia duduk terdiam menatap kosong ke arah barat. Tak ada rasa bahagia yang tertinggal dalam dirinya meskipun setitik.   Sudah enam bulan sejak sebuah tragedi menimpa orang terdekat Nadia. Memori kelam yang tidak pernah bisa dihapus dari ingatan Nadia. Kejadian yang tak meninggalkan apa pun kecuali rasa kehilangan.   Banyu namanya, pasangan sekaligus sahabat bagi Nadia untuk melakukan berbagai petualangan menyenangkan. Empat tahun yang lalu, pantai tempat Nadia berada saat ini adalah tempat pertama kali mereka bertemu secara kebetulan. Nadia yang sedang patah hati dan Banyu yang suka menyendiri. Seperti dalam dongeng, keajaiban muncul di tengah-tengah mereka. Lantas akrab dalam seketika seperti sudah saling kenal bertahun-tahun.   Sejak pertemuan pertama itu, Nadia dan Banyu...

Hantu Masa Kecil

 Hantu Masa Kecil Oleh: Arfi K. Fitrian Langit gelap berselimut sunyi Hanya terdengar sayup-sayup lolongan rimba Angin bersilir-silir menggesek dedaunan kering Hampa… Lampu jalan setapak itu remang dan berkedip tak mau menyinari lagi; tak kuasa menahan nestapa Ia adalah potret luka dari lelaki paruh baya yang berjalan singit Sosok tak kasat mata sebening kaca, yang masih terjebak di masa lalu, muncul di hadapan lelaki itu. Sosok itu meneriakkan raungan kosong; membisikkan kata sesal yang tak ia mengerti Sosok tak kasat mata tadi semakin jelas Ia mendekat, dengan kaki melayang tak beralas Diam dan terbelalak, terhenti dan berpikir, sekilas terlintas memori kelam Otak lelaki paruh baya itu memainkan anagram Jiwanya tenggelam Kelengangan yang nyata terjadi tanpa kata Seperti tubuh renta yang dipenuhi keranta Kata maaf tak mampu lagi terucap mulutnya hanya mendecap-decap Ada sebuah noda gelap di bawah mata kemudian meruak ke seluruh aorta Seperti bayangan gelap di ...

Pelaut Tak Punya Rasa Takut

 Pelaut Tak Punya Rasa Takut Matahari hampir menyentuh cakrawala barat. Air laut memantulkan sinar-sinar terakhir sang matahari sebelum lenyap. Di antara pantulan sinar itu, berlayar dengan gagah sebuah kapal terbaik yang pernah dibuat. Di belakang roda kemudi, berdiri seseorang dari negeri barat. Ia berdiri dengan gagahnya sembari memerintah awak-awaknya yang berasal dari Hindia Belanda. Ialah Kapten Haldermann atau lebih dikenal dengan sebutan Kapten Herman di Hindia Belanda. Kapten Herman sangat terkenal akan keberaniannya mengarungi lautan, tak punya rasa takut. Seorang lelaki berkulit putih, namun menghitam terbakar matahari. Tubuhnya tegap, wajahnya rupawan, namun terdapat bekas luka di pipi kirinya. Konon, bekas luka itu ia dapatkan dari pedang seorang kapten perompak paling kejam di lautan Eropa. Ia adalah Mustafa. Tidak ada yang pernah lolos dari perompak itu kecuali Kapten Herman. Kapten Herman berhasil menaklukkan seluruh perompak itu. Hanya Mustafa, sang kapten pero...

Pujangga Malam

 Pujangga Malam   Pujangga malam tak berbicara Mulutnya rapat terkatup; terjahit oleh ribuan lara Kata-kata diungkapnya hanya dengan goresan, Dengan tinta hitam di atas kertas buram. Pujangga malam berpeluh darah Demi membayar perasaan bersalah Pada bayangan gelap di dalam jiwanya Lewat sebuah senandika. Pujangga malam tak bisa tidur Terjaga memikirkan hati yang masygul. Mimpinya tak nyata; angan belaka Impiannya luntur; hancur lebur. Pujangga malam berkata dalam diam Tentang sebuah makna yang dalam, Tentang gelapnya malam, Tentang perasaan yang menderam. Cilegon, 20 Maret 2021 Arfi Fitrian

SURAT UNTUK INDONESIA (2019)

SURAT UNTUK INDONESIA