Pelaut Tak Punya Rasa Takut
Matahari hampir
menyentuh cakrawala barat. Air laut memantulkan sinar-sinar terakhir sang
matahari sebelum lenyap. Di antara pantulan sinar itu, berlayar dengan gagah
sebuah kapal terbaik yang pernah dibuat. Di belakang roda kemudi, berdiri
seseorang dari negeri barat. Ia berdiri dengan gagahnya sembari memerintah
awak-awaknya yang berasal dari Hindia Belanda.
Ialah Kapten Haldermann
atau lebih dikenal dengan sebutan Kapten Herman di Hindia Belanda. Kapten Herman
sangat terkenal akan keberaniannya mengarungi lautan, tak punya rasa takut. Seorang
lelaki berkulit putih, namun menghitam terbakar matahari. Tubuhnya tegap,
wajahnya rupawan, namun terdapat bekas luka di pipi kirinya. Konon, bekas luka
itu ia dapatkan dari pedang seorang kapten perompak paling kejam di lautan Eropa.
Ia adalah Mustafa. Tidak ada yang pernah lolos dari perompak itu kecuali Kapten
Herman. Kapten Herman berhasil menaklukkan seluruh perompak itu. Hanya Mustafa,
sang kapten perompak, yang ia biarkan hidup dengan penuh luka, terombang-ambing
di tengah lautan menunggu kematian. Menurutnya, itu adalah hukuman yang pantas
bagi seorang perompak yang kejam.
“Kapten, ada kapal
datang dari arah utara.” Seorang awak berteriak memberi tahu. Kapten Herman
langsung mengeluarkan teropong dari sakunya, lalu melihat ke arah kapal itu.
Layar-layar itu, ia mengenalinya. Layar dengan gambar tengkorak dan pedang yang
disilangkan. Tidak salah lagi, itu adalah kapal perompak.
“Bersiap! Kita akan diserang
perompak!” Hanya itu yang dikatakan Kapten Herman sesaat sebelum seluruh awak
sibuk berlarian kesana-kemari. Semua layar dikembangkan. Beberapa awak
mengambil dayung panjang dan mulai mendayung. Beberapa lainnya mengeluarkan
meriam dari dalam kapal. Tidak untuk menyerang, meriam itu hanya untuk
bertahan.
Kapten Herman kembali
melihat dari teropongnya. Para awak semakin sibuk mempercepat laju kapal.
Kapten Herman memejamkan mata, mengingat kembali pertempuran terakhirnya
melawan perompak. Mengingat saat-saat terakhir sebelum ia mendapat tebasan pedang
di pipinya. Ia takut, takut kehilangan semuanya yang dimilikinya.
Terlambat. Kapal
perompak itu sudah hampir menyusul kapal Kapten Herman. Terdengar riuh meriam.
Kapten Herman membuka matanya. Ia membuang jauh-jauh rasa takutnya. Sambil
mengangkat pedangnya, ia berseru, “Serang!”
Awak-awaknya sigap
membalas serangan meriam perompak itu. Kapten Herman menyerahkan roda kemudi ke
salah satu awak kepercayaannya. Kemudian, ia turun ke geladak menyemangati
awaknya. Tak lama setelah pertempuran dengan meriam, kapal perompak itu
berhasil menyusul. Tali-tali mulai bertaut di kapalnya. Beberapa perompak
berhasil menerobos ke kapal Kapten Herman. Kemudian, datang lagi, lagi, dan
lebih banyak lagi.
“Angkat pedang kalian!
Kita tidak akan menyerahkan kapal kita kepada orang-orang
brengsek ini!” teriak Kapten Herman pada awak-awaknya. Seluruh awaknya berseru,
“Aye!”
Matahari telah sempurna
tenggelam di cakrawala. Pertempuran terjadi di antara kegelapan. Terdengar
bunyi pedang beradu di mana-mana. Juga banyak suara teriakan kesakitan. Kapten
Herman dengan lihai memainkan pedangnya seperti koki yang lihai memainkan pisau
dapurnya.
Sejauh ini, awak-awak
Kapten Herman berhasil bertahan. Namun, perompak itu seakan tidak ada habisnya.
Terus-menerus datang melewati tali yang bertaut di antara kedua kapal. Dua
perompak mengarahkan pedang pada Kapten Herman. Ia berhasil menghindar. Dengan
tangannya yang lihai, ia menghunuskan pedang ke mata salah satu perompak itu.
Tak sampai lima detik kemudian, perompak satunya juga tumbang dengan luka tusuk
tepat di jantungnya.
Tak lama kemudian,
nampak seorang perompak lagi datang dari kapal perompak. Pakaiannya tak sama
seperti yang lain. Perompak ini menggunakan pakaian yang rapi, dengan topi
lebar di kepalanya, dan memegang pedang yang terbaik di antara para perompak
lain. Tidak salah lagi, itu adalah sang kapten perompak. Ia menembus
pertempuran dengan mudah. Matanya hanya tertuju pada satu orang, Kapten Herman.
Kapten Herman hanya
terdiam melihat kapten perompak. Ia sudah menyingkirkan rasa takutnya. Ketika
tiba di depan Kapten Herman, sang kapten perompak tidak langsung melawan. Ia
menyunggingkan senyuman tipis. Dengan sedikit membungkuk, kapten perompak
berkata dengan sopan, “Halo, Haldermann. Lama tidak berjumpa.”
Kapten Herman mengenali
perompak ini. Walau sudah berubah menjadi lebih tua, ia tetap mengenalinya.
Beberapa luka di tubuh kapten perompak itu merupakan karya Kapten Herman.
“Kukira lautan sudah
memakan jasadmu, Mustafa.” Kapten Herman mengangkat pedangnya, menyerang
Mustafa. Pedang kedua kapten itu beradu. Mereka saling melempar serangan, tak
ada yang mau mengalah. Kaki mereka juga seperti penari yang bergerak dengan
anggun mengubah posisi menyerang dan menghindar dari lawannya.
Kelelahan, Kapten Herman
pun terdesak. Ia terus bertahan hingga tak sadar telah mencapai ujung geladak.
Ketika lengah, Mustafa berhasil menjatuhkan pedang Kapten Herman. Kapten Herman
juga terdorong dan jatuh terduduk. Masih tak terlihat rasa takut pada Kapten
Herman. Mustafa mengangkat pedangnya. Menempelkannya di dagu Kapten Herman
seraya mengangkatnya ke atas. Tatapan mereka bertemu. “Aku sudah ditakdirkan
untuk menang melawanmu, Haldermann.”
Dua orang perompak
datang membawa tali dan mengikat Kapten Herman. Ia dibawa ke kapal perompak.
Kapten Herman baru menyadari bahwa banyak awaknya telah tergeletak berlumuran
darah. Beberapa awak lainnya yang masih hidup diikat dan dibawa ke kapal
perompak seperti dirinya. Semua harta dan benda berharga yang bisa dijual juga
dirampas dan dibawa ke kapal perompak. Tak lama, banyak meriam berdentum. Kapal
Kapten Herman ditenggelamkan, beserta seluruh awaknya yang telah mati.
Kapten Herman diikat di
tiang utama kapal perompak. Ia dipaksa melihat kapalnya tenggelam. Ia hanya
meringis. Kemudian, Mustafa berjalan ke arah Kapten Herman sambil tersenyum
penuh kemenangan. Semua perompak telah berkumpul mengelilingi Kapten Herman dan
awak-awaknya yang terikat tak berdaya.
“Tenggelamkan mereka
semua, kecuali sang Kapten!” teriak Mustafa dengan semangat. Perompak lain
menyahut dengan gembira. “Kau akan menyukai ini, Haldermann.” Mustafa berkata
pelan. Dua di antara perompak itu maju. Mereka menyeret awak Kapten Herman.
Satu per satu, awak Kapten Herman dari Hindia Belanda itu dilemparkan ke laut
dengan keadaan terikat. Kapten Herman hanya menahan amarah, tak mampu berbuat
apa-apa.
Ketika semua awak
Kapten Herman telah ditenggelamkan, Mustafa kembali berseru kepada para
perompak, “Sekarang, kalian bebas melukai Kapten Herman. Dengan satu syarat,
tak ada yang boleh membunuhnya, karena aku yang akan mengakhiri
penderitaannya.” Tak perlu disuruh dua kali, para perompak itu mulai menyerang
Kapten Herman yang terikat.
Setelah beberapa menit,
Kapten Herman sudah nampak babak belur. Darah mengalir dari mulut dan
hidungnya. Mustafa menghentikan para perompak untuk melukai Kapten Herman.
Kemudian ia berjalan mendekati Kapten Herman dengan membawa pedang yang telah
dibersihkan. Kapten Herman menatapnya lemah. Dengan sedikit tenaga yang
tersisa, Kapten Herman berkata dengan lirih, “Cepat bunuh aku, Mustafa! Aku
takut.”
Pedang itu mengarah
langsung ke jantung Kapten Herman. Tanpa berkata-kata, Mustafa menghunuskan
pedangnya perlahan. Rasa sakit yang tak tertahankan membuat Kapten Herman
berteriak. Kemudian Mustafa menusukkannya dengan cepat ke jantung Kapten
Herman.
Kapten Herman terkejut
terbangun dari tempat tidurnya. Ternyata ia hanya bermimpi. Dengan napas
terengah-engah, ia langsung duduk. Jantungnya berdebar sangat kencang seperti
badai. Setelah sedikit tenang, ia berjalan ke luar dari ruangan kapten menuju
ke belakang roda kemudi.
“Kapten, ada kapal
datang dari arah utara.” Seorang awak berteriak memberi tahu. Kapten Herman
langsung mengeluarkan teropong dari sakunya, lalu melihat ke arah kapal itu.
Layar kapal itu menunjukkan gambar tengkorak dan pedang yang disilangkan, kapal
perompak.
“Bersiap! Kita akan diserang perompak!” ucap Kapten Herman dengan lantang. Kapten Herman takut. Kali ini ia tak akan menyingkirkan rasa takutnya. Ia tetap merasa takut, tetapi ia akan tetap menghadapi perompak itu.
Arfi K. Fitrian
17 Januari 2021
Comments
Post a Comment