Skip to main content

Hujan yang Pergi Tanpa Pamit

 HUJAN YANG PERGI TANPA PAMIT

Rintik sendu mengiringiku menulis sebuah puisi dialektis
Sambil duduk di sudut kedai kopi, aku menyeruput makna-makna filosofis
Hujan yang kulihat di luar jendela tak kunjung berhenti
Tak pernah lelah membasahi dan memainkan hati

Di tengah gempuran badai, sang hujan berkata padaku
Tentang pengharapan yang tak seharusnya menerungku
Benakku langsung percaya begitu saja
Tanpa berpikir panjang, otakku berhenti bekerja

Entah apa alasannya, tak nampak lagi tetesan air di luar
Ia telah digantikan oleh sebuah bintang yang meyuar
Hanya meninggalkan pertanyaan yang membuat pikiranku masai
Karenanya, puisiku tak pernah selesai



Yogyakarta, 1 Oktober 2022
Arfi K. Fitrian

Comments

Popular posts from this blog

18.16 di MRT

18.16 di MRT Jingga kemerahan nampak di ujung cakrawala Menampilkan siluet-siluet perumahan padat penduduk Serta kerlap-kerlip lampu gedung-gedung tinggi Di Tengah kepadatan ibukota Ingar… Aku butuh ketenangan Lelah… Aku ingin berhenti saja Rasanya, seperti menelan air liur sendiri Cita-cita kadang menenggelamkan harapan Asa dan keringat yang bercucuran tidak pernah terbayar tuntas

Bingkai Kilas Balik

BINGKAI KILAS BALIK Binar mata kita kian menyatu Sekilas tebersit buaian waktu Berterimakasihlah kepada angin Telah menerbangkannya berlusin-lusin Lampu mercusuar itu kian berputar Padahal tak lagi ada pelaut di samudera Kepada siapakah dia berisyarat? Kepada kita yang tersandera Cilegon, 5 April 2023 Arfi K. Fitrian