Skip to main content

SURAT UNTUK INDONESIA (2019)

SURAT UNTUK INDONESIA

2019


Foto oleh ahmad syahrir dari Pexels


Hai Indonesia, negeri kepulauan yang membentang luas dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote. Hai Indonesia, negeri yang sangat kaya akan flora, fauna, dan sumber daya alam lainnya. Hai Indonesia, negeri dengan beragam suku, etnis, adat, bahasa, agama, dan ras. Hai Indonesia, negeri yang berisi manusia-manusia yang mempunyai sifat yang berbeda-beda.

Aku tahu saat ini kau sedang tidak baik-baik saja. Aku tahu banyak masalah yang kau alami. Retakan, tanda-tanda perpecahan sudah mulai terlihat pada dirimu. Ya, manusiamu memang suka mempermasalahkan sesuatu, masalah keberagaman misalnya.

Tetapi walaupun begitu, aku yakin tidak akan terjadi perpecahan pada dirimu. Aku yakin suatu saat nanti rakyatmu akan sadar bahwa keberagaman membuatmu menjadi unik. Ingat kan, Bhinneka Tunggal Ika?

Dan jika perpecahan memang terjadi, percayalah bahwa aku dan manusia lain yang memegang Bhinneka Tuggal Ika akan selalu melindungimu. Percayalah bahwa dirimu, Indonesia, akan kembali bersatu.


Comments

Popular posts from this blog

Hujan yang Pergi Tanpa Pamit

  HUJAN YANG PERGI TANPA PAMIT Rintik sendu mengiringiku menulis sebuah puisi dialektis Sambil duduk di sudut kedai kopi, aku menyeruput makna-makna filosofis Hujan yang kulihat di luar jendela tak kunjung berhenti Tak pernah lelah membasahi dan memainkan hati Di tengah gempuran badai, sang hujan berkata padaku Tentang pengharapan yang tak seharusnya menerungku Benakku langsung percaya begitu saja Tanpa berpikir panjang, otakku berhenti bekerja Entah apa alasannya, tak nampak lagi tetesan air di luar Ia telah digantikan oleh sebuah bintang yang meyuar Hanya meninggalkan pertanyaan yang membuat pikiranku masai Karenanya, puisiku tak pernah selesai Yogyakarta, 1 Oktober 2022 Arfi K. Fitrian

Ketika yang Patah Tak Lagi Tumbuh

Ketika yang Patah Tak Lagi Tumbuh Ketika yang patah tak lagi tumbuh Ketika itu pula rembulan enggan bersinar Gemintang kehilangan keajaibannya Malam kian gelap merana Ketika yang pergi tak kunjung kembali Ketika itu pula hujan enggan turun Bunga-bunga kehilangan pesonanya Bumi kian hitam-putih tak berwarna Ketika yang terluka tak bisa sembuh Ketika itu pula badai enggan berhenti Seekor merpati kehilangan pasangannya Ia kian melemah sampai mati Ketika yang patah tak lagi tumbuh Aku menjadi rapuh Jakarta, 9 Februari 2024