Skip to main content

Pujangga Malam

 Pujangga Malam

 

Pujangga malam tak berbicara
Mulutnya rapat terkatup; terjahit oleh ribuan lara
Kata-kata diungkapnya hanya dengan goresan,
Dengan tinta hitam di atas kertas buram.

Pujangga malam berpeluh darah
Demi membayar perasaan bersalah
Pada bayangan gelap di dalam jiwanya
Lewat sebuah senandika.

Pujangga malam tak bisa tidur
Terjaga memikirkan hati yang masygul.
Mimpinya tak nyata; angan belaka
Impiannya luntur; hancur lebur.

Pujangga malam berkata dalam diam
Tentang sebuah makna yang dalam,
Tentang gelapnya malam,
Tentang perasaan yang menderam.


Cilegon, 20 Maret 2021
Arfi Fitrian

Comments

Popular posts from this blog

Hujan yang Pergi Tanpa Pamit

  HUJAN YANG PERGI TANPA PAMIT Rintik sendu mengiringiku menulis sebuah puisi dialektis Sambil duduk di sudut kedai kopi, aku menyeruput makna-makna filosofis Hujan yang kulihat di luar jendela tak kunjung berhenti Tak pernah lelah membasahi dan memainkan hati Di tengah gempuran badai, sang hujan berkata padaku Tentang pengharapan yang tak seharusnya menerungku Benakku langsung percaya begitu saja Tanpa berpikir panjang, otakku berhenti bekerja Entah apa alasannya, tak nampak lagi tetesan air di luar Ia telah digantikan oleh sebuah bintang yang meyuar Hanya meninggalkan pertanyaan yang membuat pikiranku masai Karenanya, puisiku tak pernah selesai Yogyakarta, 1 Oktober 2022 Arfi K. Fitrian

18.16 di MRT

18.16 di MRT Jingga kemerahan nampak di ujung cakrawala Menampilkan siluet-siluet perumahan padat penduduk Serta kerlap-kerlip lampu gedung-gedung tinggi Di Tengah kepadatan ibukota Ingar… Aku butuh ketenangan Lelah… Aku ingin berhenti saja Rasanya, seperti menelan air liur sendiri Cita-cita kadang menenggelamkan harapan Asa dan keringat yang bercucuran tidak pernah terbayar tuntas