Skip to main content

PUISI: EULOGI WAKTU

Eulogi Waktu


Dahulu pernah ada seorang anak laki-laki
yang tak tahu kemana ia akan pergi
Ia harus tetap melangkah,
tapi buncah tanpa arah,
tanpa punya tujuan,
buta akan haluan.

Waktu memaksanya untuk memilih
Si anak laki-laki tak mampu berdalih
Wajahnya berkerut,
karut-marut
Si anak laki-laki tetap diam bak batu
hanya mampu menuruti pilihan sang waktu

Sekarang ada kabar beredar
si anak laki-laki telah dewasa
hingga memiliki hati besar
dan jiwa yang asa

Walau sempat kesal,
ia tak pernah menyesal
akan sebuah pilihan
yang dipilih sang waktu
untuk si anak laki-laki bernama aku.

(2020)
Oleh: Arfi Po

Comments

Popular posts from this blog

Hujan yang Pergi Tanpa Pamit

  HUJAN YANG PERGI TANPA PAMIT Rintik sendu mengiringiku menulis sebuah puisi dialektis Sambil duduk di sudut kedai kopi, aku menyeruput makna-makna filosofis Hujan yang kulihat di luar jendela tak kunjung berhenti Tak pernah lelah membasahi dan memainkan hati Di tengah gempuran badai, sang hujan berkata padaku Tentang pengharapan yang tak seharusnya menerungku Benakku langsung percaya begitu saja Tanpa berpikir panjang, otakku berhenti bekerja Entah apa alasannya, tak nampak lagi tetesan air di luar Ia telah digantikan oleh sebuah bintang yang meyuar Hanya meninggalkan pertanyaan yang membuat pikiranku masai Karenanya, puisiku tak pernah selesai Yogyakarta, 1 Oktober 2022 Arfi K. Fitrian

18.16 di MRT

18.16 di MRT Jingga kemerahan nampak di ujung cakrawala Menampilkan siluet-siluet perumahan padat penduduk Serta kerlap-kerlip lampu gedung-gedung tinggi Di Tengah kepadatan ibukota Ingar… Aku butuh ketenangan Lelah… Aku ingin berhenti saja Rasanya, seperti menelan air liur sendiri Cita-cita kadang menenggelamkan harapan Asa dan keringat yang bercucuran tidak pernah terbayar tuntas