Skip to main content

Ketika yang Patah Tak Lagi Tumbuh

Ketika yang Patah Tak Lagi Tumbuh


Ketika yang patah tak lagi tumbuh

Ketika itu pula rembulan enggan bersinar

Gemintang kehilangan keajaibannya

Malam kian gelap merana


Ketika yang pergi tak kunjung kembali

Ketika itu pula hujan enggan turun

Bunga-bunga kehilangan pesonanya

Bumi kian hitam-putih tak berwarna


Ketika yang terluka tak bisa sembuh

Ketika itu pula badai enggan berhenti

Seekor merpati kehilangan pasangannya

Ia kian melemah sampai mati


Ketika yang patah tak lagi tumbuh

Aku menjadi rapuh



Jakarta, 9 Februari 2024

Comments

Popular posts from this blog

Hujan yang Pergi Tanpa Pamit

  HUJAN YANG PERGI TANPA PAMIT Rintik sendu mengiringiku menulis sebuah puisi dialektis Sambil duduk di sudut kedai kopi, aku menyeruput makna-makna filosofis Hujan yang kulihat di luar jendela tak kunjung berhenti Tak pernah lelah membasahi dan memainkan hati Di tengah gempuran badai, sang hujan berkata padaku Tentang pengharapan yang tak seharusnya menerungku Benakku langsung percaya begitu saja Tanpa berpikir panjang, otakku berhenti bekerja Entah apa alasannya, tak nampak lagi tetesan air di luar Ia telah digantikan oleh sebuah bintang yang meyuar Hanya meninggalkan pertanyaan yang membuat pikiranku masai Karenanya, puisiku tak pernah selesai Yogyakarta, 1 Oktober 2022 Arfi K. Fitrian