Skip to main content

Sajak Bumi: Kepada Awan yang Aku Cinta

Kepada awan yang kukasihi,
Terkadang memandangmu saja aku lemah. Merasa sangat tak berdaya akan kuasamu di angkasa.

Kepada awan yang kusayangi,
Betapa dermawannya engkau selalu mengguyurkan hujanmu padaku. Sedang aku hanya diam tak tau harus membalas apa.

Kepada awan yang kucintai,
Meski engkau berada nun di seberang dunia, bukan berarti aku tak boleh mencintaimu; bukan juga berarti aku tak bisa mendapatkan cinta darimu.


Tata Surya, 28 Juni 2023
Dengan cinta dan kasih sayang,
Bumi

Comments

Popular posts from this blog

Hujan yang Pergi Tanpa Pamit

  HUJAN YANG PERGI TANPA PAMIT Rintik sendu mengiringiku menulis sebuah puisi dialektis Sambil duduk di sudut kedai kopi, aku menyeruput makna-makna filosofis Hujan yang kulihat di luar jendela tak kunjung berhenti Tak pernah lelah membasahi dan memainkan hati Di tengah gempuran badai, sang hujan berkata padaku Tentang pengharapan yang tak seharusnya menerungku Benakku langsung percaya begitu saja Tanpa berpikir panjang, otakku berhenti bekerja Entah apa alasannya, tak nampak lagi tetesan air di luar Ia telah digantikan oleh sebuah bintang yang meyuar Hanya meninggalkan pertanyaan yang membuat pikiranku masai Karenanya, puisiku tak pernah selesai Yogyakarta, 1 Oktober 2022 Arfi K. Fitrian

Ketika yang Patah Tak Lagi Tumbuh

Ketika yang Patah Tak Lagi Tumbuh Ketika yang patah tak lagi tumbuh Ketika itu pula rembulan enggan bersinar Gemintang kehilangan keajaibannya Malam kian gelap merana Ketika yang pergi tak kunjung kembali Ketika itu pula hujan enggan turun Bunga-bunga kehilangan pesonanya Bumi kian hitam-putih tak berwarna Ketika yang terluka tak bisa sembuh Ketika itu pula badai enggan berhenti Seekor merpati kehilangan pasangannya Ia kian melemah sampai mati Ketika yang patah tak lagi tumbuh Aku menjadi rapuh Jakarta, 9 Februari 2024