Skip to main content

PUISI: Jika Aku Mati Nanti

JIKA AKU MATI NANTI

Oleh: Arfi Po 

Jika aku mati nanti
Aku ingin memakai kaus oblong
Dengan jahitan yang asal-asalan
Kerah yang sudah longgar
Warna yang memudar

Jika aku mati nanti
Aku ingin kenakan celana jin
Dengan robekan di kedua lututnya
Tambalan dimana-mana
Dan ujungnya yang dilipat

Jika aku mati nanti
Aku ingin bersepatu bot
Dengan sol yang sudah tipis
Bekas lem yang banyak
Tanah yang belum dibersihkan

Jika aku mati nanti
Aku ingin menjadi aku
Karena aku adalah aku

Aku yang miskin
Aku yang berkaus oblong
Aku yang bercelana jin
Aku yang bersepatu bot
Aku yang sudah mati

Comments

Popular posts from this blog

Hujan yang Pergi Tanpa Pamit

  HUJAN YANG PERGI TANPA PAMIT Rintik sendu mengiringiku menulis sebuah puisi dialektis Sambil duduk di sudut kedai kopi, aku menyeruput makna-makna filosofis Hujan yang kulihat di luar jendela tak kunjung berhenti Tak pernah lelah membasahi dan memainkan hati Di tengah gempuran badai, sang hujan berkata padaku Tentang pengharapan yang tak seharusnya menerungku Benakku langsung percaya begitu saja Tanpa berpikir panjang, otakku berhenti bekerja Entah apa alasannya, tak nampak lagi tetesan air di luar Ia telah digantikan oleh sebuah bintang yang meyuar Hanya meninggalkan pertanyaan yang membuat pikiranku masai Karenanya, puisiku tak pernah selesai Yogyakarta, 1 Oktober 2022 Arfi K. Fitrian

Ketika yang Patah Tak Lagi Tumbuh

Ketika yang Patah Tak Lagi Tumbuh Ketika yang patah tak lagi tumbuh Ketika itu pula rembulan enggan bersinar Gemintang kehilangan keajaibannya Malam kian gelap merana Ketika yang pergi tak kunjung kembali Ketika itu pula hujan enggan turun Bunga-bunga kehilangan pesonanya Bumi kian hitam-putih tak berwarna Ketika yang terluka tak bisa sembuh Ketika itu pula badai enggan berhenti Seekor merpati kehilangan pasangannya Ia kian melemah sampai mati Ketika yang patah tak lagi tumbuh Aku menjadi rapuh Jakarta, 9 Februari 2024