Skip to main content

PUISI: Jika Aku Mati Nanti

JIKA AKU MATI NANTI

Oleh: Arfi Po 

Jika aku mati nanti
Aku ingin memakai kaus oblong
Dengan jahitan yang asal-asalan
Kerah yang sudah longgar
Warna yang memudar

Jika aku mati nanti
Aku ingin kenakan celana jin
Dengan robekan di kedua lututnya
Tambalan dimana-mana
Dan ujungnya yang dilipat

Jika aku mati nanti
Aku ingin bersepatu bot
Dengan sol yang sudah tipis
Bekas lem yang banyak
Tanah yang belum dibersihkan

Jika aku mati nanti
Aku ingin menjadi aku
Karena aku adalah aku

Aku yang miskin
Aku yang berkaus oblong
Aku yang bercelana jin
Aku yang bersepatu bot
Aku yang sudah mati

Comments

Popular posts from this blog

Hujan yang Pergi Tanpa Pamit

  HUJAN YANG PERGI TANPA PAMIT Rintik sendu mengiringiku menulis sebuah puisi dialektis Sambil duduk di sudut kedai kopi, aku menyeruput makna-makna filosofis Hujan yang kulihat di luar jendela tak kunjung berhenti Tak pernah lelah membasahi dan memainkan hati Di tengah gempuran badai, sang hujan berkata padaku Tentang pengharapan yang tak seharusnya menerungku Benakku langsung percaya begitu saja Tanpa berpikir panjang, otakku berhenti bekerja Entah apa alasannya, tak nampak lagi tetesan air di luar Ia telah digantikan oleh sebuah bintang yang meyuar Hanya meninggalkan pertanyaan yang membuat pikiranku masai Karenanya, puisiku tak pernah selesai Yogyakarta, 1 Oktober 2022 Arfi K. Fitrian

18.16 di MRT

18.16 di MRT Jingga kemerahan nampak di ujung cakrawala Menampilkan siluet-siluet perumahan padat penduduk Serta kerlap-kerlip lampu gedung-gedung tinggi Di Tengah kepadatan ibukota Ingar… Aku butuh ketenangan Lelah… Aku ingin berhenti saja Rasanya, seperti menelan air liur sendiri Cita-cita kadang menenggelamkan harapan Asa dan keringat yang bercucuran tidak pernah terbayar tuntas

Bingkai Kilas Balik

BINGKAI KILAS BALIK Binar mata kita kian menyatu Sekilas tebersit buaian waktu Berterimakasihlah kepada angin Telah menerbangkannya berlusin-lusin Lampu mercusuar itu kian berputar Padahal tak lagi ada pelaut di samudera Kepada siapakah dia berisyarat? Kepada kita yang tersandera Cilegon, 5 April 2023 Arfi K. Fitrian